Umat Islam Adalah Umat Pertengahan

KH DR. Muslih Abdul Karim, M.A,

Oleh: KH.DR.Muslih Abdul Karim MA

            Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan nikmat kepada segenap makhluk-makhluk-Nya. Nikmat yang tidak pernah terhitung jumlahnya, nikmat yang diberikan secara adil baik untuk orang-orang yang muslim maupun orang-orang yang kafir.

Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah-curahkan kepada panutan seluruh manusia yaitu baginda Rasulullah saw. Sebagai manusia pilihan Allah swt, manusia yang paling baik akhlaqnya, peminpin yang paling adil, dan panglima yang selalu terdepan menghadapi musuh-musuhnya. Semoga shalawat dan salam ini pula selalu terlimpah-curahkan kepada keluarganya, para sahabatnya dan seluruh umatnya yang selalu mengikuti jejak-langkahnya.

Amma Ba`du. Begitu indah ajaran yang diajarkan oleh islam. Penuh dengan kelembutan dan perdamaian. Tidak mengajarkan kelemahan dan tidak mengajarkan kekerasan. Tidak mengajarkan pesimis dan tidak mengajarkan ambisi. Tidak ada kesukaran dan tidak ada paksaan. Itulah ajaran terbaik yang dibawa oleh seluruh nabi, yang membentuk umatnya menjadi umat yang wasatiyah.

Allah swt berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَ يَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا….

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kalian (umat islam) umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian……(QS. al-Baqarah: 143)

Di dalam tafsir Jalalain, kata وَسَطَ diartikan dengan terbaik dan adil. Dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, bahwa وَسَطَ adalah paling baik dan paling bagus. Seperti pribahasa yang menyatakan bahwa Quraisy adalah suku bangsa Arab yang ausath dalam hal keturunan dan negerinya, yang berarti terbaik dalam hal keturunan dan negerinya. Seperti juga pernyataan bahwa Rasulullah saw merupakan wasathan diantara kaumnya, yaitu berketurunan paling mulia. Sedangkan di dalam kamus al-Munawir arti wasatha adalah tengah-tengah.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa umat islam adalah umat yang selalu berada dan selalu berorientasi dalam kebaikan dan yang selalu berada di tengah-tengah dalam segala hal. Umat islam bukanlah umat yang lemah dan bukan pula umat yang ekstrim. Umat islam adalah umat yang kuat. Mereka kuat, tapi mereka berda`wah dengan kelembutan. Mereka kuat tapi mereka mengajak dengan penuh kasih-sayang.  Mereka kuat tapi mereka menasehati tanpa menyakiti. Itulah umat yang dididik oleh para nabi.

Umat islam bukanlah umat yang banyak bicara dan bukan pula umat yang pendiam. Umat islam adalah umat yang berbicara ketika ada kemaslahatan di dalamnya dan berdiam ketika tidak ada kemaslahatan di dalam pembicaraannya. Umat islam bukanlah umat yang selalu mengasingkan diri dan bukan pula umat yang menonjolkan diri. Mereka adalah umat yang bergaul di tengah-tengah manusia dengan penuh ketawadhuan.

Itulah umatan wasathan, umat yang tidak kikir dan tidak pula boros ketika berinfak. Umat yang melakukan shalat malam tapi juga tidak melupakan hak tubuhnya untuk istirahat. Umat yang berpuasa tapi juga berbuka. Umat yang menjaga dirinya dari kemaksiatan tapi juga menikah. Umat yang tidak tergesa-gesa tapi juga tidak lalai. Itulah ajaran islam.

Umatan wasathan yaitu umat yang melakukan segala sesuatu dengan profesional, seimbang, adil, tidak berat sebelah dan juga tidak dzalim. Umatan wasathan berarti umat yang tidak menyimpang dan tidak pula ekstrim. Tidak sekuler dan tidak pula liberal. Tidak seperti orang-orang Yahudi dan tidak pula seperti orang-orang Nashrani. Akan tetapi mereka adalah  umat yang moderat.

Allah swt berfirman,

وَابْتَغِ فِيْمَا ءَاتَىكَ اللهُ الدَّارَ الأَخِرَةَ وَ لَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَ

Dan carilah apa yang telah anugrahkan dari kehidupan akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…(QS. Al-Qashas: 77)

Itulah ummatan wasatha, yang selalu shalat, tapi tidak lupa untuk bekerja untuk menafkahi keluarganya. Mereka memenuhi jiwa mereka dengan dzikir-dzikir yang ma`tsur tapi mereka juga tidak lupa memenuhi fisik mereka dengan makanan-makan yang halal dan olahraga yang teratur.

Ummatan wasatha bukan pula ummat yang hanya mementingan kepentingan dunia dan melupakan kepentingan akhirat. Akan tetapi mereka benar-benar seimbang di antara keduanya. Allah swt menggambarkan hal ini dalam surat al-Baqarah ayat 200-202,

Dan di antara manusia ada yang berdo`a, Ya Allah berilah kami kebahagiaan di dunia. Maka tidak ada bagiannya di akhirat kelak. Dan ada pula yang berdo`a, Ya Allah berilah kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka. Maka mereka itulah yang mendapatkan bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan Allah Maha Cepat dalam Penghisabannya. (QS.al-Baqarah: 200-202)

Umatan wasathan setidaknya mempunyai tiga ciri utama yaitu tidak berlebih-lebihan, selalu berada di jalan yang lurus dan tidak melakukan hal yang sia-sia.

 

  1. Tidak berlebih-lebihan

Allah swt berfirman,

يَبَنِى ءَادَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّ كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا وَ لَا تُسْرِفُوْا إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ المُسْرِفِيْنَ

Wahai anak Adam, bawalah perhiasan kalian setiap kalian memasuki masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan! Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. al-A`raf: 31)

Orang islam tidak belebih-lebihan dalam hal perhiasan dan makanan. Mereka menggunakan perhiasan bukan untuk kesombongan tapi hanya untuk berhias dihadapan Allah swt. Karena sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan. Seperti seseorang yang akan bertemu dengan seorang raja, tentu dia akan memakai pakaian yang terbaik dan menggunakan perhiasan yang dia miliki.

Orang islam pula tidak berlebihan dalam hal makanan dan minuman. Mereka makan hanya sebatas untuk menegakkan tubuhnya supaya tidak lemah dan sakit. Mereka mengisi sepertiga perutnya untuk makanan dan sepertiganya untuk minuman dan sertiganya lagi untuk udara.

Allah swt juga mengajarkan kepada umatan wasathan ini agar tidak berlebih-lebihan ketika berperang. Allah swt berfirman,

وَقتِلُوْا فِى سَبِيْلِ اللهِ الَّذِىْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَ لَا تَعْتَدُوْا. إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ المُعْتَدِيْنَ

Dan berperanglah di jalan Allah untuk melawan orang-orang yang memerangi kalian dan janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (al-Baqarah:190)

Ibnu katsir menerangkan bahwa maksud dari “dan janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” adalah berperang di jalan Allah tetapi jangan bersikap melampaui batas dalam melakukannya. Termasuk dalam pengertian ini adalah melakukan berbagai larangan seperti mencincang musuh, curang, membunuh wanita, anak-anak, orang-orang lanjut usia, membakar pohon dan membunuh hewan tanpa tujuan yang maslahat.

Dan Allah juga menyifati orang-orang yang umatan wasathan sebagai Ibadurrahman, yaitu mereka yang tidak kikir dan tidak pula boros ketika berinfak. (QS.al-Furqan:67)

 

  1. Selalu berada di jalan yang lurus

Umatan wasathan berarti umat yang selalu dituntut untuk berada di jalan yang lurus. Yaitu umat yang selalu menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya. Menurut Ibnu Taimiyah inilah puncak moderasi. Karena seseorang yang berada di jalan yang lurus berarti berada di tengah-tengah kebenaran. Tidak menyimpang dan tidak pula ektrim.

Oleh karenanya, Allah swt berfirman dalam surat al-Fatihah,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ المَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِيْنَ

Berikanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat dan bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat. (QS.al-Fatihah:6-7)

Yang dimaksud orang-orang yang telah diberi nikmat adalah para nabi, para sahabat rasul, para shiddiqiin dan para shalihin yang semuanya berada di tengah- tengah antara orang yang dimurkai yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang yang sesat yaitu orang-orang Nashrani.

Jadi, orang-orang islam tidak seperti orang-orang Yahudi yang membunuh para nabi yang diutus ke tengah-tengah mereka dan selalu menghalalkan yang haram dan mengharamkan halal. Orang-orang islam selalu mengtakan sami`na wa atha`na berbeda dengan orang-orang Yahudi yang selalu mengatakan sami`na wa ashoina.

Orang islam juga tidak seperti orang-orang nashrani yang¸”mereka itu menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selai Allah dan mereka juga mempertuhankan Isa bin Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka sekutukan. (QS. at-Taubah:31).

 

  1. Tidak melakukan hal yang sia-sia

Orang-orang islam selalu melakukan hal-hal terbaik. Baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Baik untuk keluarganya maupun untuk tetangganya. Baik untuk agamanya maupun untuk negaranya. Mereka selalu sadar bahwa mereka bukanlah  orang yang sempurna keimanannya kecuali mereka melakukan yang terbaik untuk orang lain sebagaimana mereka menginginkan yang terbaik untuk dirinya sendiri.

Mereka selalu melakukan kebaikan dimana dan kapanpun mereka berada. Mereka tidak pernah melakukan kesia-siaan.

Allah swt menyifati mereka sebagai,

وَ الَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضَوْنَ

Dan orang-orang berpaling dari perbuatan yang sia-sia.(QS.al-Mu`minun:3)

Dan Rasulullah saw bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُوْهُ مَا لَا يَعْنِيْهِ؛

“Diantara tanda baiknya islam seseorang adalah dia sanggup meninggalkan perbuatan sia-sia yang tidak bermanfaat untuk dirinya.(HR. Titmdzi)

Imam Malik menyebutkan bahwa sampai kepadanya keterangan bahwa seseorang bertanya kepada Luqman al-Hakim: “Apa yang menjadikan engkau mencapai derajat yang kami saksikan sekarang?” Beliau menjawab:”Berkata benar, menunaikan amanah, dan meninggalkan apa saja yang tidak berguna bagi diriku.”

Diriwayatkan dari Imam al-Hasan, ia berkata: “Tanda bahwa Allah menjauh dari seseorang yaitu apabila orang tersebut sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna bagi kepentingan akhiratnya.”

Itulah tiga ciri ummatan wasathan yang akan menyeru manusia dengan mauidzah hasanah dan kelembutan. Yang akan mencegah kemungkaran dengan kekuatan dan kekuasaan. Dan mereka beriman kepada Allah swt. Dan selalu menjadikan hidupnya penuh dengan keseimbangan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *